Sekarangmarilah kita membahas tentang diesel common rail, common rail termasuk mesin diesel generasi terkini, dibanding mesin diesel lama, diesel common rail terkenal dengan cc yang lebih kecil tapi bisa menghasilkan tenaga dan torsi yang jauh lebih besar. contohnya captiva yang hanya 2000 cc bisa menghasilkan tenaga maksimum 160 dk/3.800
Kerja common rail hampir sama dengan sistem electronic fuel injection (EFI) pada mesin bensin, hanya saja kalau common-rail menggunakan solar. βAda sensor, ECU dan injektor,β sahut Faizal kepala bengkel Chevrolet Sun Motor dibilangan Kebon Jeruk, Jakarta barat. Pemakaian BioSolar masih dapat ditoleransi oleh common-rail.
15 Fuel rail pressure sensor Fuel rail pressure sensor adalah komponen sensor yang akan mendeteksi tekanan bahan bakar pada fuel rail di mesin diesel. Sensor ini hanya terdapat pada mesin diesel yang mengusung sistem common rail. Fungsi utama sensor ini adalah untuk menentukan pompa tekanan tinggi untuk memompa agar tidak terjadi over pressure
SISTEM INJEKSI MOTOR DIESEL COMMONRAIL 1. Krakteristik motor diesel Sejak diperkenalkan pertama kali oleh Rudolf Diesel pada 1892 di Jerman, mesin diesel telah mengalami perkembangan yang sangat pesat mulai penggunaan bahan bakar hingga peningkatan kinerja yang berhubungan dengan teknologi mekanis hingga improvement power, dan konsumsi bahan bakar agar lebih bersahabat dengan lingkungan.
BeliCommon Rail Pressure Sensor - Fuel Rail Pressure Sensor - Sensor Rail Ford Ranger 3.0 3000 CC TDCI - PN 0281006018. Harga Murah di Lapak Diesel Market. Pengiriman cepat Pembayaran 100% aman. Belanja Sekarang Juga Hanya di Bukalapak. Download app BukaBantuan. Produk virtual. Kategori barang. Daftar. Login. Mesin Mobil; ECU
Komponen supply pump dan fungsinya pada mesin diesel common rail. Supply pump pada mesin diesel common rail berfungsi sebagai penghasil bahan bakar bertekanan tinggi, dimana bahan bakar bertekanan tinggi ini selanjutnya akan disalurkan menuju ke common rail pipe untuk di injeksikan oleh injektor ke ruang bakar.Agar supply pump dapat bekerja
. Fuel rail pressure sensor merupakan salah satu komponen mesin yang umumnya bisa kita temukan pada mesin-mesin diesel common rail. Sesuai namanya, fuel rail pressure sensor adalah sensor tekanan bahan bakar yang dipasang tepat dibagian fuel rail. Fuel rail sendiri merupakan tabung tempat bahan bakar solar dikumpulkan untuk kemudian dinaikkan tekanannya hingga kisaran tertentu beberapa mesin diesel common rail bisa mencapai tekanan sekitar 200 Mpa. Dengan begitu, injektor bisa menyemprotkan bahan bakar dalam bentuk kabut yang sempurna. Fuel rail terletak diantara supply pump dan injektor. Fuel rail dihubungkan dengan pipa-pipa bahan bakar baik ke injektor ataupun dari supply pump. Pada fuel rail inilah fuel rail pressure sensor di pasangkan. Artikel berikut akan menjelaskan secara lengkap tentang fungsi fuel rail pressure sensor, cara kerja, lokasi pemasangan, hingga daftar DTC yang muncul jika sensor ini rusak atau bermasalah. Simak info lengkapnya dibawah ini. Fungsi fuel rail pressure sensor Fungsi fuel rail pressure sensor adalah untuk mendeteksi tekanan bahan bakar fuel pressure yang terjadi di dalam pipa fuel rail dan mengirimkan datanya ke Engine Control Unit ECU dalam bentuk tegangan listrik. Data berupa tegangan listrik yang keluar dari fuel rail pressure sensor ini berubah-ubah sesuai dengan perubahan tekanan bahan bakar didalam pipa fuel rail. Perubahan nilai tegangan yang keluar dari fuel rail pressure sensor dikalkulasi oleh ECU sebagai data perubahan tekanan bahan bakar common rail. Data tekanan bahan bakar yang terjadi secara aktual di dalam pipa common rail kemudian digunakan oleh ECU untuk menentukan kuantitas jumlah bahan bakar yang di injeksikan ke dalam ruang bakar sekaligus mengatur kerja aktuator pada sistem common rail, seperti misalnya SCV, EGR valve, dan injektor. Lokasi fuel rail pressure sensor Lokasi fuel rail pressure sensor berada dibagian belakang fuel rail. Sedangkan bagian depan fuel rail terdapat fuel pressure limiter fuel pressure regulator yang berfungsi untuk membatasi jumlah tekanan bahan bakar yang ada di dalam fuel rail ini. Perhatikan lokasi fuel rail pressure sensor yang ada di fuel rail seperti pada gambar dibawah ini. Kalau anda kebingungan mencari lokasi fuel rail pressure sensor, coba anda perhatikan pada pipa-pipa yang terhubung dengan injektor. Seluruh pipa injektor tersebut semuanya pasti terhubung dengan fuel rail. Saat anda sudah menemukan tabung fuel rail, maka lihatlah di kedua ujung fuel rail ini. Disitu akan terdapat fuel rail pressure sensor dan fuel pressure limiter. Ini contoh lokasi fuel rail yang ada di mesin Mitsubishi seri 4D56 untuk Pajero sport atau Triton Setiap model mesin memiliki lokasi fuel rail pressure sensor yang berbeda-beda, namun secara umum posisi fuel rail pressure sensor ini tetap menempel pada pipa fuel rail yang terhubung dengan seluruh pipa injektor. Cara kerja fuel rail pressure sensor Cara kerja fuel rail pressure sensor secara sederhana adalah mengubah tekanan bahan bakar menjadi nilai tegangan listrik. Saat tekanan bahan bakar tinggi maka tegangan output yang keluar dari sensor juga akan semakin besar. Begitu pula sebaliknya, jika tekanan bahan bakar dalam fuel rail rendah, maka tegangan output akan kecil. Fuel rail pressure sensor menggunakan komponen elektronika berupa sensor tipe resistif piezo Piezo Crystal Sensor. Sensor ini memantau tekanan bahan bakar berdasarkan perubahan tegangan yang terjadi pada tegangan sumber berasal dari ECU. Perhatikan grafik perbandingan antara tekanan bahan bakar Mpa dengan tegangan ouput Vout dibawah ini Berdasarkan wiring diagram dan bentuk sensornya, fuel rail pressure sensor memiliki 3 pin pada socketnya yaitu Pin merupakan pin tegangan sumber dari ECU umumnya sebesar 5 volt. Pin merupakan pin output sensor yang digunakan sebagai input data bagi ECU tegangan berubah-ubah sesuai tekanan bahan bakar. Pin merupakan pin yang terhubung dengan ground massa di ECU Berikut cara kerja fuel rail pressure sensor ECU memberikan tegangan sebesar 5 Volt yang stabil ke kabel sinyal sensor menuju pin Tegangan 5 volt secara konstan mengalir menuju ground sensor GND - pin yang dikombinasikan dengan pin dengan nilai dibawah 0,2 Volt pin 3 dan pin 2 sama - sama terhubung ke piezo crystal sensor. Perubahan tekanan bahan bakar membuat nilai tahanan pada sensor ikut berubah. Kondisi ini juga turut mengubah nilai tegangan output yang dihasilkan oleh sensor di pin Rentang perubahan tegangan output yang keluar berkisar diantara 0 - 5 volt, tergantung dari kondisi mesin dan tekanan bahan bakar yang ada dalam fuel rail. Gejala kerusakan fuel rail pressure sensor Fuel rail pressure sensor memegang peranan penting untuk mendeteksi nilai tekanan bahan bakar secara aktual di dalam fuel rail. Apabila fuel rail pressure sensor mengalami masalah, maka secara langsung akan memberikan efek saat mesin bekerja. Berikut beberapa gejala kerusakan fuel rail pressure sensor yang Ombro ketahui. Lampu peringatan Check engine lamp menyala Mesin menjadi sulit dihidupkan Akselerasi buruk, mesin menjadi low power, dan putaran mesin yang tertahan di rpm tertentu Mesin mati secara tiba-tiba Efisiensi bahan bakar yang buruk. Baca juga Mengenal Common Rail System Mesin Diesel Penyebab Mesin Diesel Common Rail Susah Hidup 10 Penyebab Knalpot Keluar Asap Hitam Di Mobil Pajero Sport Diesel Kode DTC untuk kerusakan fuel rail pressure sensor Berikut beberapa kode DTC untuk kerusakan fuel rail pressure sensor yang Ombro ketahui pada mesin 4D56 pajero sport atau triton P0191 Rail pressure sensor range/performance problem - Terjadi perbedaan antara rail pressure objektif dan aktual yang melebihi 15Mpa selama 0,5 detik. Sensor memiliki variasi tegangan output 0,01V atau kurang. P0192 Rail pressure sensor low input - Terjadi karena tegangan output rail pressure sensor hanya sebesar 0,70 volt atau kurang. P0193 Rail pressure sensor high input - Terjadi karena tegangan output rail pressure sensor lebih dari 4,85 volt. Cara tes fuel rail pressure sensor dengan multimeter Dibawah ini adalah langkah-langkah yang Ombro ketahui untuk melakukan tes fuel rail pressure sensor dengan multimeter, yaitu dengan melakukan pengukuran tegangan output dari fuel rail pressure sensor. Berikut cara tes rail pressure sensor dengan multimeter. Siapkan multimeter digital dan lakukan zero kalibrasi Hidupkan mesin dan biarkan hingga posisi rpm idling setelah warming up Hubungkan kabel positif multimeter dengan kabel pin no. 2 yang masih menempel di fuel rail pressure sensor Hubungkan kabel negatif multimeter dengan ground Hasil "OK" jika nilai tegangan output sebesar 1,5 - 1,75 volt
Advertisement Mesin diesel common rail adalah inovasi baru pada mesin berbahan bakar solar. Layaknya EFI pada mesin bensin, sistem common rail juga menerapkan skema pengontrol elektronik dalam menentukan jumlah solar yang dinjeksikan kedalam ruang bakar. Hasilnya, pembakaran berlansung lebih efisien, hemat BBM dan lebih ramah lingkungan. Pada artikel sebelumnya sudah kita ulas secara detail bagaimana sistem common rail ini bekerja. Diartikel ini, kita akan membahas secara rinci semua komponen yang berinteraksi pada mesin diesel common rail. Apa saja ? simak selengkapnya dibawah. Nama Komponen Sistem Common rail beserta Fungsinya Beberapa komponen pada sistem common rail merupakan komponen sistem bahan bakar diesel. Namun pada sistem ini, terdapat penambahan komponen elektrikal yang akan menopang cara kerja common rail ini. Nama komponen common rail meliputi ; A. Komponen Bahan bakar Komponen ini terletak membentang dari awal solar dimasukan hingga solar disuplai ke dalam mesin. Komponen ini meliputi 1. Tangki bahan bakar. Baik sistem bahan bakar konvensional maupun elektronik, komponen bahan bakar berupa tanki wajib hadir. Hal ini dikarenakan fungsi dari komponen ini adalah sebagai penyimpan cadangan solar yang akan di masukan ke dalam mesin saat proses pembakaran. 2. Electric fuel pumpPompa bahan bakar elektrik adalah sebuah komponen yang berfungsi memompa atau menyuplai solar dari tanki ke pompa tekanan tinggi pada mesin. Baik diesel konvensional atau common rail sama-sama memiliki komponen ini, tapi pada tipe modern fuel pump sudah bersifat elektrik dan posisinya ditenggelamkan kedalam tanki. Dengan kata lain, pompa bekerja menggunakan motor listrik dimana seluruh fuel pump akan tenggelam oleh solar didalam tanki. Sehingga kalau anda mencari dimana letak pompanya, anda harus membuka bagian tanki. Didalam satu set electric fuel pump ini, juga terdapat saringan kasar dan fuel lever gauge. saringan kasar berfungsi untuk menyaring kotoran berukuran besar dari solar. fuel lever gauge berfungsi untuk mendeteksi volume solar didalam tanki 3. Filter Solar Filter solar ini terletak pada fuel line setelah keluar dari fuel pump sebelum masuk ke dalam pompa tekanan tinggi. Fungsinya untuk menyaring partikel kotoran yang terbawa oleh aliran solar dan mengendapkan air yang terbawa pada aliran solar. Fuel filter pada mesin diesel common rail bersifat lebih halus, karena sistem ini lebih sensitif terhadap kotoran yang terbawa pada aliran solar. Kotoran ini berpotensi menggagalkan proses pembakaran karena merusak injector. 4. Pompa tekanan tinggi Supply pump akan bertugas untuk membangkitkan tekanan bahan bakar solar dari tanki hingga sekitar 160 MPa. Pompa ini bekerja secara mekanis mirip seperti sistem bahan bakar konvensional. Namun pompa ini memiliki konstruksi lebih simple. Umumnya pompa ini terletak pada kepala silinder mesin dan terhubung dengan camshaft sebagai penggerak pompa. Pompa ini juga tidak mempedulikan timing seperti pada diesel konvensional, karena pompa ini hanyalah membangkitkan tekanan bahan bakar. Untuk masalah timing, diatur oleh solenoid pada injector. 5. Fuel rail Fuel rail terletak setelah pompa tekanan tinggi. Fungsi fuel rail adalah untuk mempertahankan bahan bakar dalam tekanan tinggi setelah dibangkitkan oleh pompa tekanan tinggi. 6. Injector Injector adalah komponen utama sistem bahan bakar diesel yang fungsinya untuk mengeluarkan solar dari sistem bahan bakar ke dalam mesin dalam bentuk kabutan. Pada sistem common rail, injector sudah di desain khusus hingga memiliki rangkaian solenoid yang akan bekerja saat ada arus listrik yang mengalirinya. Saat solenoid bekerja, maka noozle akan terbuka sehingga bahan bakar bertekanan dari fuel rail akan keluar dalam bentuk kabutan. B. Komponen kontrol Bagian kedua dari rangkaian komponen sistem common rail adalah dari sisi kontrol elektrikal. Beberapa komponen yang termasuk dalam rangkaian sistem electric control adalah ; 1. Sensor Sensor adalah komponen elektronika yang berfungsi mendeteksi suatu kondisi pada mesin atau obyek lainya sebagai acuan untuk menghitung nilai aktuator. Mudahnya, sensor pada mesin diesel common rail berfungsi mendeteksi beberapa kondisi untuk menentukan timing dan volume solar yang akan di injeksikan. Sensor yang termasuk pada sistem common rail antara lain ; MAF & IAT. Sensor ini terletak pada area filter udara. Fungsinya untuk mendeteksi suhu dan massa udara intake. MAP Sensor. Berfungsi untuk mendeteksi kevakuman pada intake manifold. CKP & CMP Sensor. Sensor ini akan mendeteksi kecepatan mesin untuk menentukan timing dan RPM mesin. Knock Sensor. Berfungsi untuk mendeteksi engine knocking pada mesin. Fuel rail pressure sensor. Sensor ini terletak di ujung fuel rail. Fungsinya untuk mendeteksi tekanan fuel rail. ECT Sensor. Sensor yang berfungsi mendeteksi suhu mesin melalui air pendingin. App Sensor. Sensor yang terletak pada pedal gas untuk mendeteksi berapa dalam pedal gas diinjak oleh pengguna. 2. ECM ECM adalah kependekan dari Engine Control module. Beberapa menyebutnya ECU Electronic Control Unit. Fungsinya sebagai processor utama pada mesin untuk melakukan berbagai perhitungan khususnya menghitung jumlah bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam mesin sesuai data sensor yang masuk. 3. Solenoid actuator Soleniod aktuator adalah perangkat yang berfungsi untuk menggerakan noozle didalam injektor. Bentuk dari solunoid ini berupa coil yang memiliki kemagnetan saat dialiri arus listrik. Kemagnetan tersebut dimanfaatkan untuk membuka noozle sehingga terbentuk celah pada ujung injektor sebagai tempat keluarnya solar. Jadi, solenoid ini terletak didalam injektor yang dikendalikan oleh ECM. Itulah beberapa nama komponen common rail dan fungsinya. Semoga jelas dan bermanfaat. Facebook Twitter Whatsapp
Posted on 09 Jan 2021 Mesin diesel terdiri dari dua sistem, yaitu konvensional dan common rail. Mesin diesel common rail lebih modern dengan sistem komputerisasi, khususnya perihal suplai bahan bakar ke ruang bakar. Namun ketika mesin diesel common rail susah hidup, berarti ada beberapa masalah yang bisa menjadi penyebabnya. Apa saja penyebab dari masalah ini? Masalah Solar Penyebab pertama masalah mesin diesel common rail susah hidup adalah solar. Seperti yang diketahui, solar adalah bahan bakar khusus mesin diesel. Namun ketika solar yang dipakai bermasalah, maka sudah pasti mesin ini susah solar ini mencakup terlalu kotor dan bercampur air dan jenis oplosan yang sudah tercampur cairan lain. Maka dari itu Anda harus selalu pastikan bahwa solar yang dipakai memang produk terpercaya. Jika tidak, hal ini dapat menyebabkan mesin diesel mati mendadak. Masalah Pipa/Selang Bahan Bakar Rusak Pipa atau selang bahan bakar memang menjadi bagian penting karena sebagai tempat mengalirnya solar ke bagian injektor. Jika bocor, robek, atau lepas, sudah pasti bahan bakar tidak bisa mencapai injektor. Risikonya adalah mesin diesel menjadi susah hidup. Selain itu solar akan berceceran ke bagian mesin lainnya. Malah jadi membawa risiko lebih bahaya lagi. Masalah Filter Bahan Bakar Mampet Filter bahan bakar berguna untuk menyaring kotoran. Dengan begitu solar yang masuk ke dalam ruang bakar menjadi lebih bersih. Namun saat kotoran yang tertampung sudah terlalu banyak, maka bisa muncul masalah mampet. Gejala pertama yang menjadi penanda adalah lampu indikator check engine atau water separator menyala. Kemudian suplai bahan bakar ke dalam injektor pastinya terpengaruhi karena tidak mencapai jumlah yang sesuai. Akhirnya mesin menjadi susah hidup. Masalah Priming Pump Rusak Priming pump terkadang masih digunakan di dalam beberapa mesin diesel common rail. Fungsinya untuk membantu kinerja supply pump untuk menghisap solar dari dalam tangki bahan bakar. Ketika priming pump rusak, maka solar tidak bisa terhisap dengan sempurna. Inilah yang menjadi salah satu alasan mesin jadi susah hidup. Masalah Supply Pump Pada bagian priming pump sudah disebutkan bahwa ada komponen supply pump dalam mesin diesel common rail. Fungsi utamanya adalah memompa solar ke dalam fuel rail yang menciptakan tekanan tinggi sehingga bahan bakar bisa diinjeksikan ke dalam injektor. Namun ada beberapa masalah yang bisa terjadi ke dalam supply pump SCV Suction Control Valve adalah salah satu bagian dari supply pump. Kalau SCV rusak, bocor, atau mampet, maka bisa membuat mesin susah hidup. Supply pump yang baru dipasang harus dilakukan inisialisasi terhadap ECU. Kalau tidak dilakukan inisialisasi, lampu indikator cek engine mobil Anda pasti menyala. Efeknya mesin susah dihidupkan.ββββββββββββ Masalah Fuel Rail Fuel rail atau biasa disebut juga sebagai common rail memiliki dua komponen utama, yaitu fuel rail pressure limiter dan fuel rail pressure sensor. Kalau kedua komponen ini rusak atau memiliki masalah, pembacaan CUR kepada tekanan bahan bakar dalam fuel rail pasti tidaklah akurat. Anda langsung mendapatkan peringatan dini lewat lampu indikator cek engine yang menyala. Kemudian mesin menjadi susah hidup juga Inilah Cara Pasang GPS Mobil yang Benar Untuk Hindari Tersesatβββββββ Masalah Injektor Injektor sudah disebutkan beberapa kali di atas. Fungsinya berguna untuk mengubah solar bertekanan menjadi kabut bahan bakar sehingga mesin bisa bekerja dengan baik. Namun ketika injektor bermasalah, mesin pasti susah hidup. Apalagi ada beberapa masalah yang bisa muncul Injektor mengalami mampet. Injektor belum diregistrasi ke ECU karena baru diganti. Injektor belum mengalami learning karena baru dipasang. Learning adalah proses pengenalan ECU kepada kondisi komponen baru. Maka dari itu, Anda perlu mengetahui cara membersihkan injektor mobil yang benar.βββ Masalah Sensor Common Rail Rusak Mesin diesel common rail memiliki sensor-sensor yang berguna untuk acuan saat mengoperasikan injektor dan berbagai aktuator lainnya. Tentunya terkait juga dengan sistem common rail. Beberapa sensor itu adalah CKP sensor sensor ini berguna untuk mengukur sudut putaran crankshaft. CMP sensor sensor ini berguna untuk mengukur sudut putaran camshaft. MAP sensor sensor ini berguna untuk mengukur tekanan yang ada dalam intake manifold. Kalau salah satu dari sensor di atas mengalami kerusakan, dampak negatifnya adalah mesin jadi susah dihidupkan oleh Anda. Masalah ECU ECU adalah kontrol dari keseluruhan sistem common rail. Gunanya untuk membaca, mengolah, hingga memutuskan komponen mana yang bekerja sesuai kebutuhan mesin. Beberapa masalah ECU mencakup; ECU mengalami kerusakan hingga bisa membuat mobil mogok. Vehicle Identification Number VIN belum teregistrasi dalam ECU karena baru diganti. Mengganti ECU yang modelnya tidak sesuai dengan tipe mobil Anda. Masalah Tidak Melakukan Perawatan Berkala Masalah yang cukup penting untuk dihindari adalah melupakan perawatan berkala. AutoFamily harus merawat mesin mobil diesel common rail secara berkala agar bisa mendapatkan performa terbaik. Untuk itu bawa mobil Toyota kesayangan AutoFamily ke bengkel resmi Auto2000. Dengan barisan teknisi handal dan berpengalaman, masalah-masalah yang telah disebutkan di atas tidak akan terjadi sehingga mobil bisa digunakan setiap hari dengan nyaman dan lancar. Kunjungi Auto2000 Digiroom sekarang juga dan dapatkan berbagai Promo Dealer Mobil Toyota terbaru untuk berbagai jenis layanan purna jual Auto2000. Baca juga Ingin Modifikasi Toyota Fortuner? Yuk, Kenali Bagian-bagian pada Mesin Mobilβββββββ Auto2000 Digiroom Dealer Toyota terbesar di Indonesia yang melayani jaringan jasa penjualan, perawatan, perbaikan dan penyediaan suku cadang Toyota yang tersebar di seluruh Indonesia. Temui kami di Media Sosial
Posted on 01 Agu 2021 Mesin diesel common rail merupakan inovasi terbaru untuk tipe dengan bahan bakar solar ini. Sistem common rail juga menerapkan skema pengontrol elektronik untuk menentukan berapa banyak jumlah solar yang diinjeksikan ke dalam ruang bakar. Cara kerja mesin diesel memang berbeda dengan mobil bensin, kelebihan mesin diesel terletak pada bahan bakar dan kinerja mesin yang efektif pada komponen mesin diesel. Dengan teknologi ini maka akan lebih efisien, ramah lingkungan, dan tentunya hemat bahan bakar. Lalu, apa saja komponen common rail dan fungsinya? Simak penjelasannya di bawah ini. Mengenal Fungsi Sistem Common Rail Bahan Bakar Cara kerja commn rail hampir sama dengan EFI Electronic Fuel Injection yang fungsi utamanya untuk menyuplai bahan bakar. Berikut ini, ada berbagai komponen sistem common rail dan fungsinya yang akan dijelaskan mulai dari awal solar masuk hingga diinjeksikan ke dalam mesin 1. Tangki Bahan Bakar Dari namanya sudah jelas bahwa tangki bahan bakar menyimpan bahan bakar. Nantinya, bahan bakar dari tangki akan diinjeksikan ke dalam mesin ketika proses pembakaran berlangsung. 2. Electric Supply Pump Pompa bensin elektrik ini berguna untuk menyalurkan bahan bakar ke mesin. Tentunya menggunakan pompa bertekanan tinggi ini. Mau mesin diesel konvensional atau common rail, keduanya sama-sama memiliki pompa elektrik ini. Namun ada perbedaannya juga. Untuk pompa bersifat elektrik, ternyata posisinya ditenggelamkan ke dalam tangki. Di dalamnya terdapat saringan kasar untuk menyaring kotoran dan fuel level gauge yang berguna sebagai pendeteksi volume solar ke dalam tangki. 3. Filter Bahan Bakar Fuel Filter Filter solar terletak pada bagian fuel line. Komponen ini berfungsi untuk menyaring partikel kotoran yang terbawa dari aliran solar kemudian mengendapkan air di sana. Jadi solar yang masuk ke sistem pembakaran jauh lebih besar berkat filter ini. 4. Pompa Bahan Bakar Lalu ada komponen ini yang berguna membangkitkan tekanan bahan bakar solar dari tangki hingga sekitar 160 MPa. Tugasnya memang hanya membangkitkan tekanan saja karena untuk urusan timing telah diatur oleh solenoid yang ada di injector. 5. Fuel Rail Fuel rail yang terletak setelah pompa tekanan tinggi berguna untuk mempertahankan bahan bakar agar bisa tetap dalam tekanan tinggi. 6. Injector Sistem Injeksi Injector berguna untuk menginjeksikan bahan bakar ke dalam mesin. Tentunya dalam bentuk kabutan. Injector dalam sistem common rail sudah didesain secara khusus hingga terdapat solenoid yang bekerja dengan daya listrik. Baca Juga Ini Dia 5 Solusi Mobil Injeksi Tidak Bisa Hidup Fungsi Sistem Komponen Common Rail Kontrol Sekarang masuk ke bagian kedua yang melihat dari sisi kontrol elektrik. Inilah setiap komponen dan fungsinya 1. Sensor Sensor berfungsi untuk mendeteksi kondisi mesin sebagai acuan menghitung nilai aktuator. Jadi sensor bisa menentukan timing dan volume solar yang akan diinjeksikan ke sistem pembakaran. Ada beberapa sensor di dalamnya, yakni MAF & IAT Untuk mendeteksi massa dan suhu udara intake. MAP sensor Untuk mendeteksi kevakuman dalam intake manifold. CKP & CMP sensor Untuk mendeteksi kecepatan mesin untuk menentukan RPM dan timing mesin. Knock sensor Untuk mendeteksi engine knocking dalam mesin. Fuel rail pressure sensor untuk mendeteksi tekanan fuel rail. ECT sensor Untuk mendeteksi suhu mesin melalui air pendingin. App sensor Untuk mendeteksi seberapa dalam pedal gas yang diinjak oleh pengguna. 2. ECM ECM adalah akronim dari Engine Control Module. Biasa disebut juga sebagai ECU, fungsinya adalah prosesor utama mesin untuk melakukan berbagai perhitungan. Khususnya untuk menghitung jumlah bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam mesin. βββββββ3. Solenoid Actuator Solenoid actuator berguna sebagai penggerak nozzle di dalam injector. Dengan sistem kerja magnet yang ada di dalamnya, maka nozzle bisa terbuka hingga memiliki celah untuk tempat keluarnya Juga 5 Cara Menghilangkan Asap Putih Pada Mobil DieselβββββββItulah barisan fungsi komponen common rail dalam mesin diesel. AutoFamily jangan lupa untuk selalu melakukan perawatan mesin diesel secara berkala bersama Auto2000. Kunjungi Auto2000 Digiroom untuk informasi layanan purna jual lebih lengkap. Auto2000 Digiroom Dealer Toyota terbesar di Indonesia yang melayani jaringan jasa penjualan, perawatan, perbaikan dan penyediaan suku cadang Toyota yang tersebar di seluruh Indonesia. Temui kami di Media Sosial
Makalah Mesin Diesel Common Rail Teknologi ini sebetulnya telah dikenal sejak satu abad silam, yang digunakan pada mesin lokomotif dan kapal selam. Hanya saja common rail di masa itu masih menggunakan sistem mekanis dalam membuka katup injektor. Common Rail modern, yang berbasis elektronik kemudian dkembangkan pertama kali pada tahun 1960-an oleh ilmuwan asal Swiss Robert Huber, yang kemudian dikembangkan lebih jauh lagi oleh Dr. Marco Ganser. Pada tahun 1990-an, Magneti Marelli, Centro Ricerche Fiat dan Elasis berkolaborasi membuat prototipe Common rail. Robert Bosch Gmbh, kemudian membeli paten prototipe tersebut dari Fiat Group untuk dirpoduksi massal. Mobil penumpang pertama yang mengadopsi Common Rail adalah Alfa Romeo 156 pada 1997. Namun, penggunaan Common rail modern secara massal sebetulnya dilakukan di Jepang pada tahun 1995. Hanya saja kendaraan yang memakai teknologi tersebut adalah truk, bukan mobil penumpang. Pengembangan di Jepang dilakukan oleh Dr. Shohei Itoh dan Masahiko Miyaki. Dua insinyur yang bekerja untuk Denso Corporation itu mengembangkan Common Rail untuk kendaraan berat. Pada Tahun 1995, Common Rail buatan Denso diaplikasikan pada truk Hino. Injeksi rel bersama atau dalam bahasa Inggris disebut dengan common-rail injection adalah salah satu metode injeksi bahan bakar ke dalam ruang bakar dengan sistem penghasil tekanan ditempatkan terpisah dari injektor itu sendiri.[1] Dalam injeksi rel bersama diperlukan suatu penampung tekanan tinggi yang terdiri dari rel dan jalur bahan bakar tekanan tinggi menuju nosel.[1] Tekanan injeksi dapat diatur terpisah dari putaran mesin dan kuantitas bahan bakar yang terinjeksikan dapat diatur menurut batasan tertentu.[1] Tekanan di dalam penampung dapat mencapai bar dan dialirkan melalui pipa tegar menuju injektor.[2] Sistem injeksi rel bersama umum digunakan untuk efisiensi bahan bakar yang lebih baik dan pengurangan emisi mesin diesel.[3] Hasil akhir dari penggunaan sistem ini adalah pembakaran yang optimal dalam semua rentang beban.[3] Keuntungan penggunaan Common Rail 1. Sistem common rail menawarkan peningkatan atomisasi bahan bakar, sehingga meningkatkan pengapian dan pembakaran dalam mesin 2. Sistem common rail juga memberikan peningkatan kinerja, menurunkan konsumsi bahan bakar, dan membuat getaran mesin lebih halus 3. Waktu pembakaran yang lebih sempurna, sehingga menghasilkan tenaga mesin yang jauh lebih baik. Kelemahan dari sistem injeksi rel bersama adalah tekanan kerja yang sangat tinggi menyebabkan ketegangan material yang tinggi.[3]. Implikasi dari hal ini adalah risiko kebakaran dan ledakan yang tinggi bila terjadi kebocoran sehingga perlu penempatan yang hati-hati dari sistem injeksi.[3] Sistem pada common rail terbagi atas sumber 1. Electric feed pump Tidak semua kendaraan menggunakan sistem pompa bahan bakar elektrik β Fungsi utamanya adalah memberikan asupan bahan bakar pompa utama yang mampu memberikan tekanan sangat tinggi ke "Rail" 2. Filter β Memiliki fungsi yang sangat penting sekali untuk menyaring bahan bakar sebelum memasuki pompa dan selanjutnya dikirimkan ke Rail dan berakhir di injektor. Injektor ini memiliki tingkat kerapatan yang sangat kecil dan presisi, sehingga adanya partikel kotoran pada bahan bakar akan menyebabkan injektor mampet 3. Overflow valve β Klep yang mengatur kelebihan bahan bakar dengan tekanan tinggi untuk dapat kembali ke tangki utama bahan bakar 4. Return manifold β Mengontrol bahan bakar kembali ke ke tangki utama bahan bakar 5. High Pressure pump β Pompa bahan bakar dengan tekanan sangat tinggi ini merupakan "jantung" dari sistem Common Rail Injection. Ini adalah alat yang dapat meningkatkan pasokan bahan bakar sehingga memiliki tekanan yang sangat tinggi. β Saat mesin dalam keadaan hidup, pompa bahan bakar ini dapat menghasilkan tekanan lebih dari BAR β Bandingkan tekanan pada common rail ini dengan tekanan pada ban kendaraan pada umumnya yang hanya memiliki tekanan sekitar 2,5 sampai 3,5 BAR! 6. High pressure control valve Tidak semua kendaraan menggunakan sistem pompa bahan bakar elektrik β . Fungsi utamanya adalah mengkontrol tekanan didalam pompa High Pressure pump. Kontrol ini dilakukan oleh ECU / ECM 7. Rail pressure sensor β memonitor tekanan pada sistem Rail 8. Rail β ini adalah terminology common railβ dimana bahan bakar dari pompa disalurkan dan disimpan menunggu waktu bukaan injektor yang dikontrol oleh ECU / ECM untuk selanjutnya disemprotkan ke ruang pembakaran 9. Injectors β Injectors pada sistem common rail dikontrol oleh ECU / ECM. Penggunaan injector yang berkualitas dengan presisi yang sangat tinggi akan menentukan tingkat pengkabutan bahan bakar sehingga menjadi butiran yang sangat halus dan sempurna 10. ECU / ECM β Engine Control Unit yang mengatur waktu buka / tutup injektor, serta lamanya waktu buka injektor. Sistem elekronik komputer ini saling tersambung dengan berbagai perangkat dan sensor lainnya kecepatan mesin, tekanan turbo, beban mesin, dll sehingga akan menentukan berbagai faktor lainnya demi memberikan pasokan bahan bakar yang tepat waktu dengan jumlah yang sesuai. Cara Kerja Diatas adalah common-rail ECU merupakan penggerak utama dari mesin injektor rail bersama. Pada mesin ini, minyak solardi pompa keluar dari tangki oleh pompa bertekanan rendah menuju saringan, dari saringan solar bergerak menuju pompa dengan tekanan tinggi 1600-2200bar menuju ke rail, dan diteruskan ke injektor. Penggerak daripada injektor itu adalah arus listrik, dimana arus tersebut diberikan oleh ECU yang mendapat sinyal dari sensor-sensor yang terdapat pada mesin. Aplikasi Common Rail Penggunaan Direct Injection Electronic Commonrail Common Rail pada kendaraan bermesin diesel semakin banyak kita temui beberapa tahun belakangan ini. SUV dan kendaraan 4x4 terbaru di Indonesia saat ini rata-rata tersedia dalam versi diesel dengan menerapkan teknologi Common Rail. Sebut saja Toyota Hilux dan Fortuner, Mitsubishi Triton dan Pajero Sport, Ford Ranger dan Everest, Isuzu D-Max, Nissan Frontier, Mazda BT50, dan masih banyak lagi. Berikut beberapa contoh-contoh pengaplikasian common rail pada dunia automotif; ο· BMW Mesin D digunakan juga di Land Rover Freelander TD4 ο· Cummins dan Scania AB XPI Developed under joint venture ο· Cummins CCR PompaCummins dengan injektor Bosch ο· Daimler CDI di Chrysler Jeep dinamakan CRD ο· Fiat Group Fiat, Alfa Romeo dan Lancia JTD juga dinamai MultiJet, JTDm, Ecotec CDTi, TiD, TTiD , DDiS, Quadra-Jet ο· Ford Motor Company TDCi Duratorq dan Powerstroke ο· General Motors Opel/Vauxhall CDTi diproduksi oleh Fiat, Isuzu dan GM Daewoo serta model awal DTi ο· General Motors Daewoo/Chevrolet VCDi lisensi dari VM Motori; juga diberi merek Ecotec CDTi ο· Honda i-CTDi ο· Hyundai-Kia CRDi ο· IKCO EFD ο· Isuzu iTEQ ο· Komatsu Tier3, Tier4, 4D95 and higher - HPCR seri mesin Diesel. ο· Mahindra CRDe ο· Mazda MZR-CD MZ-CD, MZ-CD diproduksi denga joint ventura dengan Ford/PSA Peugeot CitroΓ«n serta model awal DiTD ο· Mitsubishi DI-D belakangan dikembangkan di Mesin 4N1 ο· Nissan dCi, Infiniti menggunakan mesin dCi, tapi tidak diberi merek dCi. ο· Proton SCDi ο· PSA Peugeot CitroΓ«n HDI atau HDi HDI, HDI, HDI dan V6 HDI dikembangkan secara joint ventura dengan Ford ο· Renault dCi generasi sebelumnya dTi pref=2&pli=1
sensor sensor pada mesin diesel common rail